SYLVA UNPATTI

SYLVA INDONESIA
Ikatan Mahasiswa Kehutanan Indonesia
(Indonesian Forestry Student Association)

Sejarah Sylva Indonesia
Sylva Indonesia adalah Asosiasi Mahasiswa Profesi Kehutanan Indonesia (Indonesian Forestry Student Association) yang menghimpun Mahasiswa Kehutanan Indonesia melalui lembaga kemahaiswaan yang ada di tiap-tiap fakultas, jurusan, atau program studi kehutanan dan atau disesuaikan dengan kondisi perguruan tinggi masing-masing. Sylva Indonesia tepat lahir pada tanggal 30 januari 1959, di Yogyakarta. Pada awal berdirinya, Sylva Indonesia hanya memiliki dua anggota yaitu UGM dan IPB. Sampai tahun 2003, Sylva Indonesia memiliki 28 anggota (Pengurus Cabang) yang tersebar di seluruh Indonesia.
m
Visi, Misi, dan Tujuan Organisasi
1. Visi Sylva Indonesia adalah terwujudnya pengelolaan sumberdaya hutan yang lestari, adil, dan demokratis.
2. Misi Sylva Indonesia adalah mewujudkan pengelolaan sumberdaya hutan yang lestari dengan meningkatkan peran serta rakyat dan meningkatkan kualitas sumberdaya rimbawan.
3. Tujuan Sylva Indonesia adalah:
a. meningkatkan partisipasi rakyat dalam usaha-usaha pengelolaan sumberdaya hutan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
b. meningkatkan persatuan dan kerjasama mahasiswa kehutanan Indonesia.
c. meningkatkan kualitas sumberdaya mahaiswa kehutanan sebagai rimbawan yang akan berkecimpung dalam usaha pengelolaan sumberdaya hutan.
d. mempertegas peran serta mahasiswa kehutanan sebagai kontrol sosial dan agen pengubah dalam pengambilan kebijakan dan pelaksanaan pengelolaan sumberdaya hutan.
Keorganisasian

 

Kongres Nasional Sylva Indonesia (KNSI)
KNSI adalah pemegang kekuasaan tertinggi di Sylva Indonesia. Seluruh hasil KNSI harus adalah panduan organisasi Sylva Indonesia yang harus diacu oleh seluruh komponen Sylva Indonesia.

Dewan Perwakilan
Dewan Perwakilan Sylva Indonesia adalah badan kelengkapan yang mempunyai mandat dari KNSI untuk mengawasi jalannya roda organisasi yang dijalankan oleh Sekretaris Jenderal bersama Pengurus Pusat Sylva Indonesia. Dewan Perwakilan terdiri atas mahasiswa yang merupakan wakil dari tiap forum regional (Foreg) yang dipilih dan ditetapkan dalam Konfrensi Nasional Sylva Indonesia (KNSI).

Sekretaris Jenderal dan Pengurus Pusat
Untuk menjalankan roda keorganisasian Sylva Indonesia maka Sekretaris Jenderal menentukan dan mengangkat beberapa orang untuk membantu dalam melakukan koordinasi dan pelaksanaan amanat KNSI ditingkat pusat (Pengurus Pusat). Pertimbangan mahasiswa yang menjadi pengurus pusat sepenuhnya hak prerogatif Sekretaris Jenderal Sylva Indonesia. Pengurus Pusat mempunyai manadat kekuasaan eksekutif ditingkat pusat dari KNSI.

Forum Regional
Forum regional merupakan wadah kegiatan antar pengurus cabang dalam suatu region tertentu. Penentuan region didasarkan pada kedekatan wilayah geografis. Forum regional dikoordinir oleh salah satu pengurus cabang sesuai dengan kesepakatan antar masing-masing pengurus cabang dalam region yang bersangkutan.

Pengurus Cabang
Pengurus cabang merupakan lembaga mahasiswa kehutanan di fakultas, jurusan, atau program studi kehutanan disetiap perguruan tinggi yang telah menjadi cabang Sylva Indonesia setelah berdasarkan ketetapan KNSI.

Mahasiswa Kehutanan
Mahasiswa kehutanan merupakan komunitas umum yang diwadahi oleh Sylva Indonesia dan merupakan anggota Sylva Indonesia yang proses pelekatan keanggotaannya diserahkan kepada pengurus cabang masing-masing.

Keanggotaan

Anggota dari Sylva Indonesia adalah seluruh mahasiswa kehutanan Indonesia. Penetapan keanggotaan ini diatur dan ditetapkan melalui KNSI. Seperti yang telah diungkapkan diatas bahwa saat ini Sylva Indonesia telah mencapai 30 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia (2004/2005).

Semakin tahun keanggotaan sylva semakin bertambah seiring dengan berdirinya program studi Kehutanan. Ini membuktikan bahwa proses komunikasi di kalangan mahasiswa sangat diperlukan baik itu sebagai salah satu bentuk penunjang aspek keilmuan maupun untuk tempat sillatturrohmi mahasiswa.

Media komunikasi yang biasa dipakai oleh mahasiswa adalah menggunakan fasilitas internet antara lain e-mail, mailing list, dan web site. Karena keterbatasan yang ada komunikasi menjadi tidak menjadi maksimal. Diantaranya adalah mahalnya akses internet pada daerah tertentu.

Program Kerja Sylva Indonesia

Program kerja Sylva Indonesia merujuk pada rekomendasi yang muncul di KNSI. Pengurus Pusat dengan berkonsultasi kepada Dewan Perwakilan melakukan penjabaran serta menyusun draft usulan program yang kemudian dibahas dalam Rapat Kerja Nasional yang dihadiri oleh seluruh jaringan komponen Sylva Indonesia. Program yang muncul dari skema diatas merupakan program inti Sylva Indonesia, sementara program atau kegiatan lain yang tidak melalui skema tersebut diatas merupakan program atau kegiatan insidental.

Selain itu terdapat juga kegiatan rutin Sylva Indonesia. Kegiatan ini dilakukan rutin selama periode kepengurusan dan sebagai pelaksananya ditentukan pada saat Rakernas (Rapat Kerja Nasional). Pelaksana kegiatan rutin ini sering di dalam Sylva Indonesia disebut dengan Unit Pelaksana Teknis (UPT).

Adapun kegiatan yang tergolong rutin adalah :

1. Kongres Nasional Sylva Indonesia
Sampai saat ini KNSI telah dilakukan untuk yang ke-10. Untuk KNSI XI Universitas Lampung ditunjuk sebagai UPT. Rencana pelaksanaannya akan silakukan pada akhir Desember 2003. KNSI dilakukan pada setiap akhir kepengurusan.

2. Rapat Kerja Nasional Sylva Indonesia
Digunakan untuk menentukan arah kegiatan Sylva Indonesia selama periode kepengurusan.

3. Seminar Mahasiswa Kehutanan Indonesia
Ditujukan untuk melatih sensitivitas mahasiswa kehutanan terhadap perkembangan kehutanan. Selain juga merupakan salah satu konstribusi Sylva Indonesia bagi perkembangan kehutanan Indonesia.

Sementara kegiatan insidental Sylva Indonesia tergantung terhadap kondisi perkembangan kehutanan Indonesia. Kegiatan ini lebih banyak dilakukan oleh cabang-cabang Sylva Indonesia di daerah, baik itu berupa seminar, pelatihan, eksplorasi, investigasi, reboisasi, pendampingan, peringatan hari lingkungan hidup, dll. Tema yang diambil mengacu pada perkembangan aktual kehutanan daerah masing-masing.

Sumber Dana

Sylva mempunyai mekanisme iuran wajib anggota sebesar Rp. 300.000,- per Pengurus cabang Sylva Indonesia. Total dana iuran yang dapat dihimpun terbagi kedalam dua alokasi, yaitu 60% dikelola oleh Pengurus Pusat Sylva Indonesia untuk modal pergerakan awal kepengurusan dan 40% untuk Dewan Perwakilan yang dipergunakan untuk menjalankan fungsi pengawasan terhadap Pengurus Pusat.

Dana lain yang dapat menjadi sumber keuangan adalah bentuk-bentuk kemitraan yang menyebabkan adanya aliran dana yang masukbaik dari donatur maupun dari lembaga donor sepanjang tidak mengikat Sylva Indonesia secara politis.

Kesekretariatan
Domisili pusat manajemen atau Pengurus Pusat Sylva Indonesia adalah sesuai dengan asal institusi Sekretaris Jenderal. Oleh sebab itu, setiap periode kepengurusan selalu berpindah. Pada periode 2001-2003, Pengurus Pusat Sylva Indonesia berkedudukan di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada karena Sekretaris Jenderal Sylva Indonesia berasal dari institusi tersebut.